Thursday, December 08, 2016


Otak Manusia

Akibat Bohong Terhadap Otak - Suatu kebohongan ternyata tidak hanya membuat anda berdosa dan merugikan orang yang anda bohongi. Sebuah penelitian bahkan mengungkapkan bahwa bohong berakibat terhadap otak anda. Seperti yang Romi kutip dari laman Republika Studi terbaru mengungkap apa yang terjadi dalam otak seseorang ketika berbohong. Mengatakan kebohongan kecil rupanya berkaitan dengan emosi negatif yang mendorong seseorang untuk berbohong lebih banyak di kemudian hari.

Studi oleh tim dari University College London (UCL) ini didanai oleh Wellcome and the Center for Advanced Hindsight dan telah diterbitkan di Nature Neuroscience. Penelitian tersebut diklaim menyajikan bukti empiris pertama mengenai bagaimana kebohongan bisa meningkat secara bertahap. "Ketika seseorang berbohong, amigdala menghasilkan perasaan negatif yang menetapkan batas sampai titik mana ia dapat mengatakan dusta," kata Tali Sharot, dokter dan pakar dalam bidang Psikologi Eksperimental di UCL dilansir laman Sciencedaily belum lama ini.

Namun, lambat laun respon amigdala alias bagian otak yang berhubungan dengan emosi itu justru memudar dan aktivitasnya melemah. Itu justru membawa tindakan-tindakan kecil ketidakjujuran meningkat menjadi kebohongan yang jauh lebih signifikan.

Simpulan itu didapatkan tim peneliti setelah memindai otak 80 orang relawan saat tanpa sadar mengatakan kebohongan. Masing-masing diminta berpasangan dan mengestimasi jumlah uang dalam wadah dan menuliskan tebakannya menggunakan komputer.

Eksperimen ini diatur dalam beberapa skenario berbeda yang disebutkan bakal menguntungkan si peserta, kedua pihak dalam tim, atau hanya menguntungkan salah satu dari mereka tanpa berpengaruh pada yang lain. Hasil pindaian memperlihatkan bahwa tiap orang mulai melebih-lebihkan perkiraan nominal ketika tebakan bisa menguntungkan diri sendiri. "Kami hanya menguji ketidakjujuran dalam eksperimen ini, tetapi prinsip eskalasi yang sama agaknya juga berlaku untuk tindakan lain seperti pengambilan risiko atau perilaku kekerasan," ungkap peneliti lain, Neil Garrett.


EmoticonEmoticon